Jakarta dan Jalanannya

Kondisi jalan di Jakarta ketika sore benar-benar tidak bisa dibilang nyaman. Kendaraan bermotor berjejal memenuhi ruang jalan yang ada, membuat lampu lalu lintas seakan tak punya arti. Belum lagi polusi udara yang membuat kita susah payah menahan nafas.

Sore itu cukup gila menurutku, waktu pulang kantor memang saat dimana emosi orang-orang memuncak. Ketika kendaraan di depanku sedikit melambat, raungan klakson orang-orang di belakangku seperti membentak tidak terima. Mungkin mereka pikir dengan klakson mereka bisa membantu kendaraan di depannya untuk berjalan lebih cepat.

Aku saat itu sedang membonceng motor temanku. Tangan kananku memegangi tas selempang hitam yang biasa aku gunakan ke kantor, sedangkan tangan kiri memegang HP untuk melihat Google Map. Saat itu kita sedang menuju ke Mangga Dua untuk komplain tentang adapter lensa yang ku beli tadi siang yang nampaknya rusak.

Karena kami masih tidak tau jalan ke tujuan, aku seringkali melihat ponsel di tangan kiri ku untuk mengetahui lokasi.

Ketika kami tiba di perempatan lampu merah, tiba-tiba ada ibu di sampingku yang memanggilku.

“Mas, mas”, panggilnya.

“Hah?! iya bu ada apa ya?”, tanyaku dengan nada cukup kaget.

“Engga mas, cuma mau mengingatkan aja. HP nya mending dimasukkin deh, takut kalo ntar kecopetan”, tuturnya dengan suara yang kurang jelas ditelan kebisingan suara kendaraan saat itu.

“Oh, baik bu, terima kasih sudah mengingatkan”, jawabku dengan sedikit berteriak.

Ternyata, di tengah kacaunya jalanan Jakarta, masih ada orang yang peduli dengan sesamanya. Aku yang berasal dari daerah yang katanya orang-orang nya toleran dan peduli sesama saja tidak pernah mengingatkan seperti ibu tadi.

Wah aku malu…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>