Jakarta dan Kisah Tiga Sepeda Kumbang

Daerah Kota Tua ini sudah seperti rumahku sendiri. Dulu tempat ini masih sangat rimbun dengan pepohonan besar yang sudah ada dari zaman kolonial belanda.

Namun dibawah rindangnya pohon, tempat ini banyak banci mas, mereka bekerja ketika hari mulai gelap. Banyak semak berbau pesing, orang-orang kencing sembarangan, jorok sekali lah. Syukurlah, saat ini tempat ini sudah dibersihkan, dibangun dengan rapi sehingga cukup banyak dikunjungi wisatawan.

Sejak 1990 aku datang dari Pemalang untuk mengadu nasib di Jakarta. Menjadi tukang ojek sepeda dengan jalur Kota Tua – Sunda Kelapa. Saat itu tarifnya Rp100 untuk sekali jalan, cukup mas untuk biaya kos dan dua bungkus nasi sehari. Kalau sekarang, dengan uang sejumlah itu pengamen pun tak mau terima mas.

Waktu berjalan cepat, zaman terus berubah, hingga tiba lah saat banyak orang menggunakan motor. Usaha ojek sepeda milik ku gulung tikar di tahun 1994.

Dari saat itu hingga setahun kedepan, aku bekerja di toko bangunan milik orang Medan di daerah Jakarta Barat. Disana aku bertemu dengan seorang wanita yang kelak menjadi istriku, Wati.

Setelah menikah, aku sadar aku harus mencari penghasilan lebih. Kebetulan aku punya teman sesama mantan penarik ojek sepeda. Dia mengajakku untuk menyewakan sepeda wisata di Kota Tua. “Gampang, aku ada kenalan”, tuturnya. “Sediakan modal saja untuk beli 3 sepeda kumbang”.

Dari saat itu hingga kini, inilah pekerjaan yang setia aku tekuni. Dengan pekerjaan ini, satu anakku sudah lulus SMA, dan si kembar masih SD kelas tiga. Istriku juga membantu dengan berjualan nasi di depan rumah.

Naik turun di pekerjaan ini jelas ada mas. Dulu aku sempat dua kali kehilangan sepeda, yang pertama dicuri oleh turis, yang kedua dilarikan oleh teman seprofesi. Sedih ya pasti ada mas, namanya juga kehilangan. Tapi untungnya aku masih punya satu sepeda yang masih bisa disewakan, dan saat ini aku sudah punya dua sepeda lagi, alhamdulillah.

Hahaha, apa ya mas. Aku bingung kalau ditanya pendapatku tentang Jakarta. Untuk tinggal di Jakarta memang perlu perjuangan yang lebih dibanding di kampung. Disini kita harus pandai beradaptasi, karena sebagai orang Jawa, unggah-ungguh menjadikan kita tidak enakan. Sedangkan disini namanya tidak enakan itu terkadang pada akhirnya malah menyusahkan diri kita sendiri.

Namun harus diingat mas, itu bukan serta merta kita menghilangkan identitas dan tata krama kita sebagai orang Jawa. Kita di Jakarta harus bisa untuk lebih berterus terang tentang apa yang kita rasakan, dan gigih untuk mencapai sesuatu yang kita inginkan. (Muh. Ramlan, 2017)

#31HariMenulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>